Muslimno. 598). Artinya: "Allah, tidak ada ilah ( yang berhak disembah) melainkan Dia, yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Merupakan Salah Satu Ilmu Peninggalan Sunan Kalijaga, yang dimiliki oleh seseorang agar ingin Nampak
وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَا تَأْتِينَا ٱلسَّاعَةُ ۖ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّى لَتَأْتِيَنَّكُمْ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ ۖ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلْأَرْضِ وَلَآ أَصْغَرُ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكْبَرُ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ Arab-Latin Wa qālallażīna kafarụ lā ta`tīnas-sā'ah, qul balā wa rabbī lata`tiyannakum 'ālimil-gaibi lā ya'zubu 'an-hu miṡqālu żarratin fis-samāwāti wa lā fil-arḍi wa lā aṣgaru min żālika wa lā akbaru illā fī kitābim mubīnArtinya Dan orang-orang yang kafir berkata "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami". Katakanlah "Pasti datang, demi Tuhanku Yang Mengetahui yang ghaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada pula yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata Lauh Mahfuzh", Saba 2 ✵ Saba 4 »Mau dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarangPelajaran Mendalam Terkait Surat Saba Ayat 3 Paragraf di atas merupakan Surat Saba Ayat 3 dengan text arab, latin dan terjemah artinya. Ada kumpulan pelajaran mendalam dari ayat ini. Terdokumentasikan kumpulan penafsiran dari kalangan pakar tafsir berkaitan isi surat Saba ayat 3, misalnya sebagaimana tertera📚 Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia3-4. Orang-orang kafir yang mengingkari kebangkitan berkata, “ Kiamat tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah kepada mereka wahai Rasul, “Pasti, demi Allah Tuhanku, ia benar-benar akan datang, hanya saja saat kedatangannya tidak diketahui kecuali oleh Allah semata Yang Maha Mengetahui yang ghaib, dimana tidak samar bagiNya seekor semut sekalipun, baik di langit maupun dibumi, tidak juga yang lebih besar atau lebih kecil dari itu, kecuali ia tertulis dalam kitab yang nyata, yaitu Lauhul Mahfuzh”, agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang membenarkan Allah dan mengikuti Rasulullah serta melakukan amal-amal yang shalih. Mereka mendapatkan ampunan bagi dosa-dosa mereka dan rizki yang mulia, yaitu surga.📚 Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid Imam Masjidil Haram3. Orang-orang yang kafir kepada Allah berkata, “Hari Kiamat tidak akan pernah datang.” Katakanlah kepada mereka -wahai Rasul-, Demi Allah tidak demikian, hari Kiamat yang kalian dustakan pasti akan datang kepada kalian, namun tidak ada yang mengetahui waktunya kecuali Allah saja, Dia lah yang mengetahui apa yang gaib, yaitu hari Kiamat dan lainnya, tidak ada yang tersembunyi dari ilmu Allah, sekalipun ia lebih kecil dari seekor semut di langit dan di bumi, tidak ada yang lebih kecil dari itu atau lebih besar yang luput dari ilmu Allah, karena ia telah tertulis di dalam kitab yang nyata, yaitu Lauḥul maḥfūẓ yang mencatat segala sesuatu yang terjadi hingga hari Kiamat.📚 Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah3. Orang-orang kafir yang mengingkari hari kebangkitan dan lalai dari tanda-tandanya berkata “Hari kiamat tidak akan terjadi.” Hai Muhammad, bantahlah mereka seraya bersumpah untuk menegaskan itu pasti terjadi “Bukan demikian! demi Tuhanku yang telah memperlakukanku dengan baik, sungguh hari kiamat akan datang, dan kemudian Allah akan memberi balasan bagi kalian dan memberi keputusan antara diriku dengan kalian. Allah Maha Mengetahui hal ghaib, Dia mengetahui segala yang ghaib dan tersembunyi, tidak ada sesuatupun yang luput dari ilmu-Nya. Tidak ada hal kecil dan besar melainkan telah tercatat dalam lauhul mahfudz yang mencantumkan segala hal yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi. Oleh sebab itu, Allah Maha Kuasa untuk membangkitkan dan menghisab dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah3. وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا۟ لَا تَأْتِينَا السَّاعَةُ ۖ Dan orang-orang yang kafir berkata “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami” Yakni hari kiamat dan hari kebangkitan. Mereka mengatakan ini karena mengingkari kedatangannya, dan mendustakan kabar-kabar yang sampai kepada mereka dari Allah lewat lisan para nabi yang tertuang di dalam kitab-kitab-Nya. قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّى لَتَأْتِيَنَّكُمْKatakanlah “Pasti datang, demi Tuhanku sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu Allah memerintahkan nabi-Nya untuk memberitahu mereka dan bersumpah dengan nama-Nya atas kebenaran kabar untuk menekankan bahwa hari kiamat pasti akan datang. لَا يَعْزُبُ عَنْهُTidak ada tersembunyi daripada-Nya Yakni tidak ada yang tertutup dan tersembunyi dari-Nya. مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْأَرْضِ وَلَآ أَصْغَرُ مِن ذٰلِكَsebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada pula yang lebih kecil dari itu Yakni lebih kecil daripada zarrah. وَلَآ أَكْبَرُdan yang lebih besar Yakni lebih besar daripada itu. إِلَّا فِى كِتٰبٍ مُّبِينٍmelainkan tersebut dalam Kitab yang nyata Lauh Mahfuzh” Yakni itu semua tercantum dalam Lauh Mahfuzh.📚 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, pakar fiqih dan tafsir negeri Suriah3. Orang-orang kafir yang mengingkari hari kebangkitan berkata “Hari kiamat dan hari kebangkitan tidak akan terjadi pada kami.” Katakanlah kepada mereka wahai nabi, untuk menyanggah perkataan mereka “Tidak seperti itu, dengan bersumpah demi Tuhanku hari kiamat akan mendatangi kalian dan segala amal perbuatan kalian akan diberi balasan. Tuhanku Maha Tahu atas segala yang ghaib yaitu segala yang tidak bisa dilihat/tidak bisa dijangkau oleh manusia dengan ilmunya. Tidak ada seculi dzarrah pun yang dapat luput dari pengawasan dan penglihatan Allah baik di bumi dan di langit. Tidak ada yang lebih kecil dari permisalan itu dan tidak ada yang lebih besar dari itu kecuali tidak akan luput dari pengawasan dan catatan Allah dalam tempat yang terjaga yaitu Lauhul Mahfudz.📚 Tafsir Ash-Shaghir / Fayiz bin Sayyaf As-Sariih, dimuraja’ah oleh Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-Awaji, professor tafsir Univ Islam MadinahOrang-orang yang ingkar berkata,“Hari kiamat itu tidak akan datang kepada kami” Katakanlah,“Tentu saja. Demi Tuhanku yang mengetahui yang gaib, kiamat itu pasti mendatangi kalian. Tidak ada yang tersembunyi} tidak ada yang tersembunyi {dariNya sekalipun seberat zharrah} seukuran semut yang sangat kecil {baik yang di langit maupun yang di bumi, yang lebih kecil daripada itu atau yang lebih besar, kecuali semuanya ada dalam kitab yang jelas} kitab yang jelas yaitu Lauhil MahfudzMau dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Tafsir as-Sa'di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, pakar tafsir abad 14 H 3. Setelah Allah menjelaskan keagunganNya melalui sifat-sifat yang Dia sandangkan pada diriNya; dan hal ini mengharuskan mengagungkan dan menyucikanNya serta beriman kepadaNya, maka Dia menyebutkan bahwa di antara golongan-golongan manusia ada sekelompok manusia yang tidak menghargai Rabbnya dengan sebenar-benarnya, malah mereka kafir kepadaNya dan mengingkari kekuasaanNya untuk menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati dan adanya kiamat, dan dengan itu mereka menentang Rasul-rasulNya, seraya berfirman, “Dan orang-orang kafir berkata,” maksudnya, kafir kepada Allah, rasul-rasulNya dan ajaran yang mereka bawa. Maka disebabkan kekafiran itu, mereka berkata, “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.” Maksudnya, tidaklah kiamat itu melainkan kehidupan dunia ini saja, kami mati dan hidup! Lalu Allah memerintah RasulNya untuk membantah perkatan mereka dan mematahkannya serta bersumpah tentang kebangkitan, bahwa kebangkitan itu pasti akan datang kepada mereka. Dan untuk hal itu Dia berdalil beragumen dengan dalil bahwa siapa yang membenarkannya, maka dia harus membenarkan kebangkitan dengan pasti, yaitu ilmu Allah, yang Mahaluas lagi meliputi segala sesuatu, seraya berfirman, “yang mengetahui yang ghaib,” maksudnya, perkara-perkara yang ghaib dari pandangan mata kita dan dari pengetahuan kita, maka bagaimana dengan yang Nampak? Tentu Dia lebih mengetahuinya kemudian Dia mengukuhkan ilmuNya seraya berfirman, “Tidak ada yang tersembunyi,” maksudnya, tidak ada yang lepas dari pengetahuan Allah, “seberat biji sawi pun nyang ada di langit dan yang ada di bumi,” maksudnya, segala sesuatu dengan raga dan bagian-bagiannya, hingga bagian yang terkecil dari bagian-bagian tersebut, yaitu serpihan-serpihannya, “dan tidak ada pula yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata.” Maksudnya, semua telah diliputi oleh ilmuNya, telah dicatat oleh penaNya dan telah termuat di dalam kitabNya yang nyata, yaitu Lauh Mahfuzh. Maka, tuhan yang tidak ada yang tersembunyi dari ilmuNya sebesar atom pun lalu yang lebih kecil darinya dalam sepanjang waktu, dan mengetahui yang berkurang dari bumi berupa mayat dan apa-apa yang tersisa dari jasad mereka itu Kuasa menghidupkan kembali mereka adalah tentu lebih pasti, dan kebangkitan mereka tidak lebih aneh daripada ilmu yang meliputi segala sesuatu ini.📚 An-Nafahat Al-Makkiyah / Syaikh Muhammad bin Shalih asy-SyawiSurat Saba ayat 3 Setelah Allah menjelaskan kemuliaan dan kekuasaan-Nya pada makhluk-Nya, Allah mengabarkan bahwasanya orang-orang yang kafir dan mengingkari hari kebangkitan yang mereka mengingkari banyak ayat-ayat Al Qur’an, mereka berkata Tidak akan datang kepada kami hari kiamat. Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya yang beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan yang tidak pernah sedikitpun mencoba berbohong, agar beliau bersumpah atas nama Tuhannya bahwasanya hari kiamat benar-benar akan datang, tidak mungkin tidak datang, akan tetapi tidaklah makhluk mengetahui kedatangannya kecuali hanya Allah saja yang tahu , yang mengetahui yang ghaib, dimana sesuatu yang ghaib tidaklah tersembunyi baginya walaupun sebesar dzarrah baik di langit maupun di bumi; Tidaklah tersembunyi bagi-Nya sesuatu yang ghaib apapun itu meskipun lebih kecil dibandingkan dzarrah atau lebih besar darinya. Segala sesuatunya jelas bagi-Nya dan tertulis di Lauhul Mahfudz. Dzarrah adalah biji-bijian atau semut kecil.📚 Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan keagungan diri-Nya dengan menyebutkan sifat diri-Nya, di mana hal ini mengharuskan Dia untuk dibesarkan, disucikan dan dan diimani, maka Dia menyebutkan, bahwa di antara manusia ada segolongan orang yang tidak mengagungkan Tuhannya dengan pengagungan yang semestinya, bahkan mereka kafir kepada-Nya, mengingkari kekuasaan-Nya untuk mengembalikan orang-orang yang sudah mati, dan mengingkari adanya hari Kiamat. Di samping itu, mereka juga menentang para rasul-Nya. Kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada apa yang mereka bawa dari sisi Allah. Maksud mereka, tidak ada kehidupan selain kehidupan dunia, di mana kita hidup kemudian mati setelah itu selesai. Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Rasul-Nya membantah ucapan mereka dan bersumpah tentang benarnya kebangkitan, dan bahwa Kiamat akan datang kepada mereka. Untuk menguatkannya dipakai dalil di mana orang yang mengakuinya, mesti membenarkan kebangkitan, yaitu ilmu pengetahuan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang luas lagi merata, Dia berfirman, “Yang mengetahui yang gaib,” yakni perkara-perkara yang gaib dari penglihatan dan pengetahuan kita. Jika yang gaib saja diketahuinya, lalu bagaimana dengan yang tampak. Selanjutnya diperkuat pengetahuan-Nya, bahwa tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya seberat dzarrah pun di langi maupun di bumi, semuanya diketahui-Nya. Yaitu semut terkecil. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, penanya lebih dulu berjalan, dan tertulis dalam kitab yang jelas, yaitu Lauh Mahfuzh. Oleh karena itu, Tuhan yang mengetahui segala yang tersembunyi meskipun seberat dzarrah pun dan mengetahui orang-orang yang telah mati serta bagian mana saja yang masih tersisa dari jasadnya tentu mampu membangkitkan mereka, dan hal itu tidaklah mengherangkan bagi Tuhan yang ilmu-Nya meliputi segala dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang📚 Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Saba Ayat 3-4. Kedatangan hari kiamat itu tiada lain agar dia memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan semasa di dunia. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia, yakni dapat pahala jariyah dan rezeki berlimpah? Klik di sini sekarang Demikianlah variasi penafsiran dari banyak ulama tafsir mengenai kandungan dan arti surat Saba ayat 3 arab-latin dan artinya, moga-moga memberi kebaikan untuk ummat. Dukunglah dakwah kami dengan mencantumkan hyperlink ke halaman ini atau ke halaman depan Yang Cukup Sering Dikaji Terdapat berbagai konten yang cukup sering dikaji, seperti surat/ayat Al-Mu’minun, At-Tahrim 8, At-Taubah 122, Al-Hujurat 10-12, Al-Insyirah 8, Al-Alaq 1-5. Juga Al-Insyiqaq, Ath-Thalaq 2-3, Al-Baqarah 148, Al-Isra 26-27, At-Takwir, At-Taubah 105. Al-Mu’minunAt-Tahrim 8At-Taubah 122Al-Hujurat 10-12Al-Insyirah 8Al-Alaq 1-5Al-InsyiqaqAth-Thalaq 2-3Al-Baqarah 148Al-Isra 26-27At-TakwirAt-Taubah 105 Pencarian ayat alquran dan artinya, surat 71, wal ashri innal insaana lafii, surah al-kautsar beserta artinya, surat 104 Dapatkan amal jariyah dengan berbagi ilmu bermanfaat. Plus dapatkan bonus buku digital "Jalan Rezeki Berlimpah" secara 100% free, 100% gratis Caranya, salin text di bawah dan kirimkan ke minimal tiga 3 group WhatsApp yang Anda ikuti Silahkan nikmati kemudahan dari Allah Ta’ala untuk membaca al-Qur’an dengan tafsirnya. Tinggal klik surat yang mau dibaca, klik nomor ayat yang berwarna biru, maka akan keluar tafsir lengkap untuk ayat tersebut 🔗 *Mari beramal jariyah dengan berbagi ilmu bermanfaat ini* Setelah Anda melakukan hal di atas, klik tombol "Dapatkan Bonus" di bawah
Sungguh Al Quran begitu banyak menyimpan ilmu dan teknologi. Beberapa ayat saya mencoba gali dengan keterbatasan ilmu. alhamdulillah akhirnya saya mampu "menggali" ilmu tersebut. Ilmu dimaksud baru hanya berkaitan dengan bidang yang saya sukai, yakni teknologi robot. Kita bisa mengkaitkan dengan bidang disiplin ilmu apa pun yang kita sukai.Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Sebagai umat manusia,kita diciptakan oleh Allah SWT dengan bekal akal sejak kita dilahirkan dan ditakdirkan untuk hidup di dunia. Akal yang umat manusia miliki ini merupakan karunia yang Allah SWT berikan sebagai pembeda antara kita dengan makhluk-makhluk lain ciptaan-Nya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Akal berarti daya pikir untuk memahami sesuatu dan sebagainya; pikiran; ingatan. [1]Menurut Harun Nasution, kata akal berasal dari kata Arab "al-Aql" yang menjadi kata Indonesia, dalam bentuk kata benda tidak ada dalam Al-quran, hanya bentuk kata kerja al-Aqaluh 1 ayat, ya'qiluha 1 ayat, ya'qilun 22 ayat, ta'qilun 24 ayat dan na'qilu 1 ayat, dalam arti mengertian dan paham. Selain itu menurut ahli Kant juga mengungkapkan pendapatnya bahwa apa yang kita katakan rasional itu adalah ide yang masuk akal tapi menggunakan ukuran hukum alam. Dengan kata lain, pikiran rasional adalah kebenaran yang diukur dengan hukum alam.[2] Akal yang kita miliki ini tentunya harus digunakan untuk dapat lebih jauh lagi mendalami ilmu-ilmu juga Epistemologi Islam Wahyu sebagai Sumber Ilmu dalam Islam Di dalam agama Islam, baik di dalam Alqur'an , sunnah Nabi SAW, maupun semua ajaran dari tokoh-tokoh agama Islam terdahulu menekankan bahwa kedudukan ilmu sangatlah penting. Firman Allah SWT dalam yang artinya sebagai berikut "Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu" ,menjelaskan bahwa Allah SWT ialah sumber dan segala sesuatu, tidak ada satu hal pun yang dapat luput dari pengawasan-Nya, juga kekuasaan-Nya baik itu yang ada di langit maupun yang ada di akhirat serta baik itu yang nyata maupun yang tak terlihat gaib. Sumber ilmu primer dalam epistimologi Islam adalah wahyu yang diterima oleh nabi yang berasal dari Allah SWT, sebagai sumber dari segala sesuatu. Al-Wahyu atau wahyu merupakan masdar infinitive yang memberikan dua pengertian dasar, yaitu tersembunyi dan cepat. [3] Epistimologi Islam yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah juga mengambil sumber ilmu lainnya, yaitu Akal 'aql dan hati qalb serta indra -indra yang terdapat dalam diri juga Dalil dan Sumber-sumber Ilmu FiqihAl-Qur'anSebagai umat muslim sudah seharusnya kita mengakui bahwasanya segala ilmu pengetahuan yang kita dapati bersumber dari Allah SWT melalui firman-Nya di dalam kitab suci Al-quran sebagai pedoman umat manusia agar senantiasa mendapatkan keselamatan hidup di dunia maupun di akhirat kelak. Banyak sekali di dalam kandungan ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan mengenai ilmu-ilmu pengetahuan seperti mengenai ilmu bumi dan alam, seperti yang ada di dalam Al-Quran surah Qaf ayat 7-8 yaitu, "Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali mengingat Allah." Qs Qaf 7-8Menurut Muhammad Al-ghazali, pada dasarnya Al-Quran memberikan kepada umat Islam wawasan yang luas dan metode pemikiran yang jelas yang dapat digunakan oleh setiap generasi serta ilmu yang dibarengi dengan iman, yang sama sekali tidak ada pertentangan diantara keduanya.[4]Baca juga Hakikat dan Sumber Ilmu Pengetahuan Melalui Perspektif Barat Dan Perspektif Islam 1 2 Lihat Pendidikan Selengkapnya Beliaubersabda yang artinya, "Kunci-kunci ilmu gaib ada lima, hanya Allah yang mengetahuinya: tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari kecuali Allah, tidak ada yang tahu apa yang dikandung oleh rahim kecuali Allah, tidak ada yang tahu kapan turun hujan kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang tahu di bumi mana dia akan meninggal, dan tidak ada yang tahu kapan terjadi hari kiamat kecuali Allah." (HR Bukhori) Pengertian Ilmun Pengertian IlmunIlmu ﻋﻠﻢ Maha Mengetahui. Ilmu Allah Tidak iniPosting terkait Ilmun Sifat wajib Allah ke-9 yakni, Ilmun artinya mengetahui atas segala sesuatu baik yang tampak maupun tidak tampak oleh umat manusia. Allah SWT berfirman وَمَا تَكُوْنُ فِيْ شَأْنٍ وَّمَا تَتْلُوْا مِنْهُ مِنْ قُرْاٰنٍ وَّلَا تَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ اِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوْدًا اِذْ تُفِيْضُوْنَ فِيْهِۗ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِى السَّمَاۤءِ وَلَآ اَصْغَرَ مِنْ ذٰلِكَ وَلَآ اَكْبَرَ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ Artinya Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari al-Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Rabbmu biarpun sebesar zarrah atom di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak pula yang lebih”. QS. Yunus 61 Baca Juga Iradat Artinya Ilmu ﻋﻠﻢ Maha Mengetahui. Artinya, Allah itu Dzat yang Mengetahui. Allah mengetahui segala hal dan peristiwa, dengan tidak didahului oleh keraguan atau kesamaran. Allah Maha Mengetahui karena Dialah yang menciptakan segala sesuatu. Sedangkan manusia tahu bukan karena menciptakan, tapi sekedar melihat, mendengar, dan mengamati. Itu pun terbatas pengetahuannya sehingga manusia tetap saja tidak mampu menciptakan meski hanya seekor lalat. Firman Allah “ Dan Allah memiliki kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu basah atau kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata Lauh Mahfudz” Al- An’aam 59 Diantara sifat yang wajib bagi Dzat Yang Wajib Ada, adalah sifat “Ilmu”Maha Mengetahui. Yang dimaksud, ialah terbukanya tabir sesuatu bagi Dzat yang telah tetap sifat itu bagi- Nya, yakni yang menjadi sumber, pokok pangkal dari terbukanya tabir sesuatu sifat ilmu, termasuk sifat- sifat wujudiah yang menjadi sifat bagi Yang Wajib Ada. Baca Juga Qudrat Artinya Segala sifat yang dipandang menjadi kesempurnaan bagi wujud, wajiblah ada pada dirinya. Maka karena itu teranglah, bahwa Dzat yang wajib Ada itu berilmu Alim, Maha Mengetahui. Kenyataan menunjukan, bahwa ilmu menjadi kesempurnaan bagi segala sesuatu yang mungkin wujud ada. Dan diantara yang termasuk mungkin wujid itu ialah Dzat yang Memiliki Ilmu Alim. Maka sekiranya Yang Wajib Ada itu tidak Alim tidak berilmu, tentu akan terdapat dalam sesuatu yang mungkin ada itu, Dzat substansi yang lebih sempurna keadaannya dari pada Dzat Yang Wajib Ada. Sedang itu mustahil, sebagaimana yang telah kami terangkan. Kemudian Dzat Yang Wajib Ada itulah yang menjadi pemberi ilmu dalam alam yang mungkin ini. Tenti tidak masuk akal sama sekali, bahwa Yang menjadi Sumber Ilmu tidak mempunyai Allah “ Katakanlah Sekiranya lautan jadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu.” Al- Kahfi 109 Allah ber- Ilmu dengan arti mengetahui segalanya. Tidak ada satu kejadian atau masalah yang bagaimana kecil atau besarnya yang tidak diketahui oleh Allah. Allah tidak boleh dikatakan tidak tahu, bodoh dan lain- lain sebagainya. Baca Juga Wahdaniyah Artinya Mari kita sama menengok sejurus ke alam semesta. Demikian hebat dan kokohnya, demikian cantik dan teraturnya ala mini dibikin oleh Allah. Berlangit dan bermatahari, berbumi dan berbintang, masing- masing berjalan beredar dengan teratur, tidak pernah bearntuk dan bertabrakan satu dengan yang lainnya. Sungguh menunjukan hebatnay Ilmu Allah yang mengadakan dan mengatur itu semua. Dengan ilmu yang setinggi dan sesempurna itulah Allah menciptakan segala benda dan alam ini seluruhnya. Dan dengan ilmu yang sempurna dan setinggi itu pula lah Allah mengadakan peraturan bagi setiap alam yang diciptakan Allah itu. Dengan pengetahuan dan ilmu yang begitu tinggi dan sempurna, begitu pula lah Allah membuat aturan yang berupa perintah dan larangan bagi manusia. Aturan atau perintah dan larangan Allah itu ialah agama, yang diturunkan Allah dengan perantara Nabi dan para Rasul- Nya, yang dari dulu sampai sekarang bernama Agama Islam. Sadarlah kita hendaknya sesadar- sadarnya bahwa segala perintah dan larangan Allah yang tercantum dalam kitab- kitab Suci- Nya itu pasti baik untuk dipatuhi dan dijalankan oleh manusia. Firman Allah “Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” An- Nisaa’ 176 Berilmunya Allah itu adalah termasuk diantara hal- hal yang lazim bagi wujud- Nya, sebagaimana telah diketahui. Ilmu- Nya mengatasi segala macam ilmu, karena tinggi martabat wujud- Nya diatas segala yang maujud ada. Maka teranglah pula, bahwa Ilmu- Nya itu meliputi segala sesuatu yang dapat dicapai oleh ilmu pengetahuan. Baca Juga Qiyamuhu Binafsihi Artinya Berilmunya Allah adalah satu dari suatu kelaziman bagi wujud- Nya. Maka dari itu Ia tidak berkehendak kepada sesuatu selain kepada Dzat- Nya sendiri. Ia adalah“azali”. Dzat yang wujudnya tidak berawal dan tidak juga berakhir abadi, bebas tidak bisa dicapai dengan alat- alat media- media dan oleh ketajaman- ketajaman pikiran dan kegiatan- kegiatan otak. Jadi Ia berlainan dengan segala yang berilmu dari sesuatu alam yang mungkin. Diantara dalil- dalil yang membuktikan tentang tetap adanya Ilmu Allah, ialah apa yang kita saksikan sendiri pada struktur susunan alam yang mungkin ini, berupa hokum- hokum dan kerapiannya, terletak segala sesuatu pada tempat yang semestinya, tetapnya masing- masing pada bidang yang diperlukan dalam wujud dan kekalnya. Ini nyata jelas bagi mata orang yang suka memperhatikan apa yang ditunjukan oleh benda- benda alam, baik besar makro, maupun yang kecil mikro, tinggi maupun yang rendah. Ilmu Allah Tidak Terbatas. Allah SWT mempunyai ilmu yang tidak terbatas. Dia mengetahuai apa saja yang ada di langit dan di bumi, baik yang gaib maupun yang nyata. Firman Allah “ Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi..” Al- Hajj 70 “Dialah Allah, Yang tiada Tuhan selain Dia. Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” Al- Hasyr 22 Baca Juga mukhalafatu lil hawaditsi artinya Tidak ada satu pun yang tersembunyi bagi Allah SWT. Sebutir biji dalam gelap gulita bumi yang berlapis- lapis tetap diketahui oleh Allah SWT. Seperti Firman Allah dalam surat Al- An’aam, ayat 59. Ilmu Allah memang maha luas, tiada terbatas. Dia mengetahui apa yang sudah dan akan terjadi. Manusia, malaikat dan makhluk mana pun tidak akan bias menyelami lautan ilmu Allah SWT. Bahkan untuk mengetahui ciptaan Allah saja manusia tidak akan mampu. Seperti yang digambarkan dalam Firman Allah dalam surat Al- Kahfi ayat 109 Baca Juga Al Muhshii Artinya
adawali masyhur dan ada wali mastur ,wali yang terlihat di dalam keramaian dan wali yang tersembunyi ,bawalah adab ini untuk bisa berjumpa dengan wali waliNASIHAT DAN WASIAT UNTUK PARA PENUNTUT ILMUOleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir JawasNasihat Ketiga TIDAK BOLEH MENYEMBUNYIKAN ILMU Menyembunyikan ilmu adalah satu sifat tercela yang disandang oleh Ahlul Kitab Yahudi dan Nasrani, yaitu mereka menyembunyikan kebenaran risalah Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wa sallam di dalam Kitab suci keduanya Taurat dan seseorang mengetahui suatu ilmu, kemudian ada orang lain yang bertanya tentang ilmu ter-sebut maka ia harus menyampaikan ilmu tersebut kepadanya. Sebab apabila tidak dilakukan dan ia menyembunyikan ilmunya itu, ia terkena ancaman Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam dalam sabdanya,مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْـجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ.“Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka ia akan di-belenggu pada hari Kiamat dengan tali kekang dari Neraka.”[1]Allah Ta’ala berfirmanإِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh semua makhluk yang dapat melaknat.” [Al-Baqarah/2 159]Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullaah mengatakan, “Seorang penuntut ilmu hendaklah memberikan ilmunya kepada penuntut ilmu selainnya dan tidak menyembunyikan suatu ilmu pun karena ada larangan keras dari Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam terhadap perbuatan tersebut.”[2]Selain itu Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam memberikan perumpamaan bagi orang yang menyem-bunyikan ilmu dalam sabda beliau,مَثَلُ الَّذِيْ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ ثُمَّ لاَ يُـحَدِّثُ بِهِ كَمَثَلِ الَّذِيْ يَكْنِزُ الْكَنْزَ فَلاَ يُنْفِقُ مِنْهُ.“Perumpamaan orang yang mempelajari ilmu kemudian tidak menceritakannya tidak mendakwahkannya, seperti orang yang menyimpan perbendaharaan lalu tidak menginfakkannya.”[3]Ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang berkaitan tentang apa yang wajib diketahui oleh setiap Muslim dari urusan itu, menyampaikan ilmu hanyalah kepada orang yang layak menerimanya. Adapun orang yang tidak layak menerima ilmu itu, maka boleh menyembunyikan ilmu darinya. Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Syakir rahimahullaah mengatakan, “Menyampaikan ilmu hukumnya wajib dan tidak boleh menyembunyikannya, namun mereka para ulama mengkhususkan hal itu bagi orang yang berkopetensi layak menyembunyikan ilmu kepada orang yang belum siap menerimanya, demikian juga kepada orang yang terus-menerus melakukan kesalahan setelah diberikan cara yang benar.”[4]Nasihat Keempat PENUNTUT ILMU HARUS TUNDUK PADA KEBENARAN Mu’adz bin Jabal radhiyallaahu anhu pernah berkata, “Allah Ta’ala adalah Hakim Yang Mahaadil dalam memberikan hukuman. Dia-lah Dzat yang Nama-Nya Mahatinggi. Dan orang-orang yang meragukan hal itu akan binasa.”[5]Abdurrahman bin Abdillah bin Mas’ud rahimahullaah berkata, “Ada seseorang yang datang kepada Abdullah bin Mas’ud seraya berkata, Wahai Abu Abdirrahman, beritahukan kepadaku kalimat yang simpel namun banyak mengandung manfaat!’ Abdullah menjawab, Jangan sekali-kali engkau menyekutukan Allah. Berjalanlah bersama Al-Qur-an kemana saja engkau pergi. Jika ada kebenaran yang datang kepadamu, janganlah segan-segan untuk menerimanya sekalipun kebenaran itu jauh letaknya dan tidak menyenangkan. Dan jika ada kebathilan yang datang kepadamu, tolaklah ia jauh-jauh sekalipun kebathilan itu sangat dekat letaknya dan sangat kausukai.’”[6]Imam asy-Syafi’i rahimahullaah mengatakan, “Ketika aku meriwayatkan hadits shahih dari Rasulullah dan aku tidak menggunakannya, maka aku bersaksi pada kalian semua bahwa sejak itulah kewarasan akalku telah hilang.”[7]Beliau juga berkata, “Apabila ada seseorang yang mengingkari dan menolak kebenaran berada di hadapanku, maka aku tidak akan menaruh hormat lagi kepadanya. Dan barangsiapa yang menerima kebenaran, maka aku pun akan menghormati dan tanpa ragu akan mencintainya.”[8]Orang yang sombong adalah orang yang menolak kebenaran, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam…اَلْكِبْرُ بَطَرُ الْـحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.“…Yang dikatakan sombong adalah menolak kebenaran dan melecehkan manusia.”[9][Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M] _______ Footnote [1] Hadits shahih Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3658, at-Tirmidzi no. 2649, dan Ibnu Majah no. 266, ini lafazh Ibnu Majah, dari Shahabat Abu Hurairah. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud II/441, Shahih Sunan at-Tirmidzi II/336, no. 2135, dan Shahih Sunan Ibni Majah I/49, no. 213. [2] Lihat al-Baa’itsul Hatsiits II/440. [3] Hadits hasan Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath no. 693, dari Shahabt Abu Hurairah radhiyallaahu anhu. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 3479. [4] Lihat al-Baa’itsul Hatsiits II/440. [5] Siyar A’laamin Nubalaa’ I/357. [6] Shifatush Shafwah I/183, cet. II, Maktabah Nazar Musthafa al-Baaz, th. 1418 H. [7] Siyar A’laamin Nubalaa’ X/34. [8] Ibid X/33. [9] Shahih Diriwayatkan oleh Muslim no. 91 147 dan at-Tirmidzi no. 1999. Home /A9. Fiqih Dakwah Nasehat/Penuntut Ilmu Tidak Boleh...